EPISTIMOLOGI EKSISTENSIALISME MUHAMMAD IQBAL DAN RELEVANSINYA BAGI
ILMU PENDIDIKAN (ISLAM)
Oleh : Muhadi, M.Pd. M.Pd.I
A.
Pendahuluan
Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun
lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali
kajian-kajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya yang telah
berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Dalam kajian
ini akan membahas tentang tokoh yang monumental diabad kedua puluh, yaitu
Muhammad Iqbal (selanjutnya ditulis; Iqbal). Semoga tulisan ini dapat menjadi
bahan diskusi dan dapat diambil ibrah bagi kalangan intelektual dan
cendikiawan muda yang haus akan ilmu pengetahuan.
Ide keutentikan ikut menyinari pemikiran iqbal, penyair, filosof
india awal abad 20. Terilhami oleh
peikiran eropa dan Islam, iqbal menolak baik konsepsi kemajuan eropa maupun
pola budaya islam kontemporer di india. Dia mengajak kaum muslimin sejati untuk
melawan mullahisme, mistisisme, dan monarki, serta melawan cara-cara asing. Dalam
kontek luas Muhammad Iqbal menyeru kepada semua manusia untuk bangkit mengatasi
cara-cara tradisional serta ide-ide dan teknologi barat guna menemukan
kreativitas, semangat, dan keutentikan diri mereka sendiri.
Seorang penulis geografi kontemporer iqbal memuji ”tidak ada
manusia yang serba bisa, produktif, dan jenius dalam sejarah melebihi iqbal.
Pembandingan yang melintasi masa dan budaya seperti ini merupakan pekerjaan
sulit, meskipun kapan saja muncul keberatan keserbabisaan dan kompetensi iqbal.
Dalam kajian filsafat yang sangat menarik daripemikiran Muhammad Iqbal adalah
tentang ego sebagai pusat falsafatnya. Ekistensialisme merupakan aliran
filsafatnya yang mengususng keyakinan ontologis bahwa ada adalah subjektifitas,
sebagi reaksi filsafat-filsafat sebelumnya ang menggulirkan kepercayaan
ontologis sebaliknya yakni ada adalah subjektifitas. [1]
B.
Sekilas Biografi M. Iqbal
Muhammad Iqbal penyair (filusuf, ahli hokum, pemikir politik, dan
reformis muslim). Ia dilahirkan di
Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan
Kashmir) pada tanggal 22 Pebruari 1873 M, atau bulan Dzulhijjag 1289 H,[2] dan wafat pada tanggal 21 April 1938 M dalam usia 60 tahun.[3]
Ia lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah
sehingga sejak masa kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang
ayah Syekh Mohammad Noor yang
dikenal sebagai seorang ulama dan Muhammad Rafiq
kakeknya.[4] Kemudian mengikuti pelajaran al-Quran dan pendidikan Islam lainnya
secara klasik di sebuah surau. Selanjutnya iqbal dimasukkan oleh ayahnya
ke Scotch Mission College di Sialkot
agar mendapatkan bimbingan dari maulawi Mir Hasan (teman ayahnya yang ahli
bahasa Persia dan Arab).[5]
Setelah menelesaikan pendidikan Scotch Mission College, karena
bakat intelektual yang tinggi, guru dan bapaknya mendorong M. Iqbal pergi ke
Lahore untuk mendaftarkan diri ke Government College (sebuah lembaga pendidikan
tinggi terbaik di anak benua India. Ia lulus dengan predikat cum loude, dan
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan progam magister dengan bidang filsafat.[6]
Pada saat itu ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold (orientalis inggris yang
terkenal yang mengajarkan filsafat Islamdi college tersebut. Antara keduanya
terjalin hubungan intim melebihi hubungan guru dengan murid.
Dengan dorongan dan dukungan Arnold, iqbal terkenal sebagai salah
seorang pengajar yang berbakat dan penyair di Lahore. Pada tahun 1905, ia studi
di Cambridge pada R.A Cisolon, seorang spesialis dalam sufisme, dan seorang
Neo-Negelian, yaitu John M,E, Mc Tagar. Iqbal kemudaian belajar di Heidelberg dan munich.
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan
bahwa gagasan-gagasannya tersebut tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi dan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya
adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin
tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat
tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858 British
East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas
pemerintah imperium India.[7]
C.
Pemikiran Muhammad Iqbal
Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam
pengantar buku Metafisika Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan
Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu intuisi, diri,
dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran
Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya
secara mendalam.[8]
Namun dalam tataran praktek, Iqbal
secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan bukti
berupa literatur-literatur yang beredar luas, justru dia adalah sebagai
negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena memang
gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan jika dikaji,
pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia dan Tuhan) itulah
yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada khususnya dan dibelahan
dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai negarawan maupun sebagai
agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensiona.[9] Dengan
latar belakang itu pula maka dalam makalah ini akan memaparkan gagasan-gagasan
Iqbal dalam dua hal yaitu: pemikirannya tentang politik dan tentang Islam.
1.
Pemikiran
politik
Sepulangnya dari Eropa, Iqbal
kemudian terjun kedunia politik dan bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga
Muslim India. Ia terpilih menjadi anggota legistalif Punjab dan pada tahun 1930
terpilih sebagai Presiden Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya
pun semakin harum ketika dirinya diberi gelar ‘Sir’ oleh pemerintah
kerajaan Inggris di London atas usulan seorang wartawan Inggris yang aktif
mengamati sepak terjang Iqbal,[10]
di bidang intelektual dan politiknya. Gelar ini menunjukan pengakuan dari
kerajaan inggris atas kemampuan intelektualitas dan memperkuat bargening
position politik perjuangan umat Islam India pada saat itu. Ia juga
dinobatkan sebagai Bapak Pakistan yang pada setiap tahunnya dirayakan oleh
rakyat Pakistan dengan sebutan Iqbal Day.[11]
Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk
mewujudkan Negara Islam ia tunjukkan sejak terpilih menjadi Presidaen Liga
Muslimin tahun 1930. Ia memandang bahwa tidaklah mungkin umat Islam dapat
bersatu dengan penuh persaudaraan dengan warga India yang memiliki keyakinan
berbeda. Oleh karenanya ia berfikir bahwa kaum muslimin harus membentuk Negara
sendiri. Ide ini ia lontarkan keberbagai pihak melalui Liga Muslim dan
mendapatkan dukungan kuat dari seorang politikus muslim yang sangat berpengaruh
yaitu Muhammad Ali Jinnah (yang mengakui bahwa gagasan Negara Pakistan adalah
dari Iqbal), bahkan didukung pula oleh mayoritas Hindu yang saat itu sedang
dalam posisi terdesak saat menghadapi front melawan Inggris.[12]
Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya merupakan satu keluarga yang terdiri atas
republik-republik, dan Pakistan yang akan dibentuk menurutnya adalah salat satu
republik itu.
Sebagai seorang negarawan yang
matang tentu pandangan-pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam.
Bagi Iqbal, budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti
spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh
buruk budaya Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri
manusia adalah jati dirinya. Dengan pemahaman seperti itu yang ia landasi
diatas ajaran Islam maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap
umat Islam dan identitas keislamannya. Umat Islam tidak boleh merasa rendah
diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin dapat melepaskan
diri dari belenggu imperialis.[13]
Muhammad Asad mengingatkan bahwa imitasi
yang dilakukan umat Islam kepada Barat baik secara personal maupun social
dikarenakan hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan
menghancurkan peradaban Islam. Diantaran paham Iqbal yang mampu mambangunkan
kaum muslimin dari tidurnya adalah “dinamisme Islam” yaitu
dorongannya terhadap umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam.
Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal
menyeeru kepada umat Islam agar bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu
tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa seolah-lah orang kafir yang
aktif kreatif "lebih baik" dari pada muslim yang "suka
tidur".
Iqbal juga memiliki pandangan
politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan
sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh
dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment
nasionalisme. M. Natsir menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure
of Islam, Iqbal menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya:[14]
Didalam agama Islam spiritual dan temporal, baka dan fana, bukanlah dua daerah
yang terpisah, dan fitrat suatu perbuatan betapapun bersifat duniawi dalam
kesannya ditentukan oleh sikap jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar
belakang ruhani yang tak kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan
watak dan sifat amal perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal (fana),
atau duniawi, jika amal itu dilakukan dengan sikap yang terlepas dari kompleks
kehidupan yang tak terbatas. Dalam agama islam yang demikian itu adalah adalah
seperti yang disebut orang "gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan
sebagai "negara" kalau dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak
benar kalau gereja dan negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari
barang yang satu. Agama Islam adalah suatu realitet yang tak dapat
dipecah-pecahkan seperti itu.
Demikian tegas Iqbal berpandangan
bahwa dalam Islam; politik dan agama tidaklah dapat dipisahkan, bahwa negara
dan agama adalah dua keseluruhan yang tidak terpisah. Dengan gerakan
membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan diri) inilah Iqbal dapat
mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami
dewasa ini. Ia kembalikan semangat sebagaimana yang dulu dapat dirasakan
kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep kedirian inilah yang pada
akhirnya membawa Pakistan merdeka dan ia disebut sebagai Bapak Pakistan.
2.
Pemikiran
Religius dan
pengetahuan
Agama
dalam bentuknya sudah lebih maju, tumbuh lebih tinggi dari pada karya sastra.
Agama bergerak dari individu kemasyarakat. Dalam sikapnya kebenaran tertinggi
berlawananan pada batas-batas manusia; menambah hak-haknya dan tidak ada
gambaran yang dipertahankannya selain suatu pandangan langsung tentang
kebenaran itu.[15]
Semangat
filsafat adalah semangat untuk tahun nelaahan
secara bebas. Segala macam keraguan ditinggalkannya.[16]
Sedangkan terkait dengan ketuhanan mengalami tiga tahapan yaitu: dari tahun
1901 sampai kira-kira tahun 1908. Pada tahab ini iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Tahap kedua dari tahun 1908 sampai 1920. Pada tahab ini
iqbal mulai menyangsikan sifat kekal dari keindahan dan efesiensinya, serta
kausalitas akhirnya. Sebaliknya tumbuh akan keyakinan akan keabadian cinta,
hasrat, dan upaya atau gerak. Tahp ketiga berlangsung dari tahun 1920 sampai
1938. Jika pada tahap kedua merupakan pertumbuhan, maka pada tahap ketiga
merupakan pengembangan menuju kematangan konsepsi iqbal tentang ketuhanan.
Tuhan adalah hakekat sebagai suatu keseluruhan”, dan hakikat sebagai suatu
keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual, dalam arti suatu indifidu dan
suatu ego.[17]
Adapun
Filsafat mengikuti rekaan-rekaan pemikiran manusia yang tidak kritis sampai ke
tempat-tempat yang masih tersembunyi, dan dalam pengusutan itu bias juga
akhirnya ia berkesudahan dengan menolak atau menerima secara hati terbuka
kelemahan akal semata untuk sampai pada kebenaran tertinggi itu. Sebaliknya,
intisari agama ialah iman, dan iman itu seperti burung melihat jalannya yang
tidak berjejak dan tidak dituntun oleh intelek, yang menurut kata-kata puisi
peyair sufi Islam ”hanya menghalangi jantung manusia yang hidup dan merampas
kekayaan hidup yang tidak tampak, yang terselip di dalamnya”. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa iman itu
tidak hanya perasaan saja. Ia adalah sesuatu, semacam isi pengertian yang
disana berbagai golongan hadir dan saling bertentangan.[18]
Berangkat
dari permasalahan di atas, maka standar yang bias dipakai untuk melihat iqbal
adalah standar universal; standar yang bukan hanya tidak ada, melainkan bahkan
menurut iqbal tidak akan lahir dari pemikiran barat (‘penyakit otak”) maupun
mistisisme timur (“penyakit hati”). Standar universal yang dicarinya itu adalah
sejenis standar yang akirnya diajukan oleh iqbal sendiri, yakni standar kebenaran
individual yang pada akhirnya akan menyatu. Pada akhirnya iqbal mengajukan
suatu teori umum tentang keutentikan, yaitu :[19]
a.
Keunikan
Bagi
iqbal identitas tidak diturunkan dari komitmen terhadap tradisi yang lapuk atau
semangat nasionalis yang berapi-api, tetapi dari suatu keyakinan bahwa
pemahaman realitas harus berangkat dari pemahaman eksistensial tentang diri
sendiri. Penalaran maupun perasaan dapat menyesatkan maupun menipu. Hanya hati
atau jiwa sejati, dengan kekuatan intuitifnya yang dapat dipercaya untuk untuk
mencerap realitas yang tak lain adalah semesta diri. Iqbal tidak percaya bahwa
sains modern yang terobsesi oleh data empiris maupun mistisisme dalam bentuk
pelarian mampu menawarkan penyelesaian bagi kondisi-kondisi eksistensi yang
kongkrit.
Diri
autentik mencerminkan masa lalunya sebagai bagian dari wujud masa kininya.
Kesadaran diri dari masa lalu muncul dari komunitas, iqbal menyebutnya
“pertalian antara apa yang akan dan yang telah terjadi”. Iqbal memandang
kesendirian sebagai kondisi primordial manusia. Ia menolak pandangan bahwa
individu adalah bagian atau cerminan dari tuhan. Ia menolak pandangan mistis
bahwa iman bias melenyapkan individu melalui keterserapan dalam Tuhan, kendati
keyakinannya pada cinta ketimbang nalar sebagai esensi iman membawanya ke dalam
tradisi mistis.
b.
Kesatuan
Iqbal
menunjukkan bahwa keunikan diri, bila dimengerti semestinya memegang kunci
untuk memahami semua eksistensi. Diri, melalui pemahaman diri yang utuh
membebaskan dirinya untuk memahami dunia dan bertindak di dalamnya, sesuai
moral maupun amoral. Muslim sejati mencapai titik pemahaman ini dengan konsep
tauhid.
Iqbal
mengkritik keras pada timur dan barat pada argumen-argumen tentang dualisme
palsu. Ia mengecam timur karena meninggalkan pemikiran abad pertengahannya
menuju pemikran induktif. Kaum muslim secara keliru memandang agama sebagai
cara pemahaman yang ekslusif yang berbeda dengan sains dan filsafat.
Sebaliknya, eropa menolak keyakinan religious demi kebenaran yang dianggapnya
objektif, yakni kebenaran sains. Dalam pandangan iqbal kedua dualisme itu melahirkan
distorsi. Eropa berpaling pada materialism yang tidak manusiawi, sementara
kalangan islam terperosot dalam pasivitas dan mistisisme.
Iqbal
menyadari keterbatasan pemahaman mengenai segala sesuatu di luar diri, tetapi
ia mencoba menunjukkan bahwa pengetahuan dan instuisi adalah dua model
pemahaman yang dengannya diri memahami berbagai macam reaitas. Ia menolak
doktrin sufi wahdah al wujud, kesatuan wujud yang dimaknai dunia seluruhnya
adalah Tuhan. Iqbal mencoba menunjukkan bahwa islam yang menekankan keesaan
tuhan dan keterakhiran kenabian Muhammad. Akhirnya setelah mengkritik hallaj
mengenai doktrin ini, ia setuju dengan hallaj bahwa kesatuhan ilahi tidak
menghancurkan persnalitas sang penempuh jalan mistis, tetapi membuatnya lebih
sempurna, lebih suci, dan lebih ilahiyah, dan mejadikannya unsur bebas dan
hidup dari kesatuan ini.
c.
Otonomi
Iqbal
memandang dunia sebagai produk usaha manusia. Tuhan telah mempercayakan kepada
manusia dunia kepada manusia untuk membentuknya menurut kehendaknya dan manusia
bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan sendiri. Itu berarti
bertanggung jawab dihadapan tuhan, cerin diri sejati. Muslim sejati dibedakan
satu sama lain berdasarkan pada tingkat dominasi kehendaknya atas keniscayaan.
Iqbal menyebutkan tiga tingkat kemajuan bagi ego, yaitu:
1)
ketaatan
pada hokum ilahi yang menuntut penguasaan diri dan komitmen yang terbatas.
2)
Pengendalian
diri yang merupakan penjauhan dari dan keunggulan atas kepemilikan material,
dan
3)
Perwakilan
Tuhan dimana pemikran dan tindakan, insting dan penalaran menjadi satu. Mereka
yang mencapai tingkat perwakilan tuhan itu mengarahkan kejadian-kejadian dimuka
bumi. Mewarisis sifat-sifat ego mutlak, individu-individu semacam itu adalah
wakil tuhan yang paling sempurna.
d.
Radikalisme
Iqbal
percaya bahwa dunia muslim indi pada decade pertama abad ini memerlukan
transformasi, akan tetapi radikalisme iqbal lebih kuat ketimbang sekedar
melawan aturan penjajah inggris. Iqbal menyerukan perlawanan terhdap kekangan
tradisi dan kemordenan yang melanda india dan bagian dunia non-eropa lainnya.
Iqbal mendukung ide Jamaluddin al-afgani ihwal Negara islam. Dalam
pandangannya, manusia diasingkan oleh pemisahan tubuh fisik dari idenya
sendiri, yang mendapat momentumnya sendir. Hidup mereka dibebani oleh idiologi
dan lembaga yang dilahirkan oleh imajinasi mereka sendiri kehilangan semua
sentuhan yang kehilangan kreatif dari mana mereka tumbuh.
Ketika
membandingkan tradisi islam yang sedang berjalan dengan islam menurut al-Quran
dan Muhammad, iqbal menemukan kekurangan dalam hal keberanian, imajinasi,
heroism. Bahwa kaum muslimin telah diseret menuju cara-cara eropa menunjukkan
kelemahan tradisi yang berlaku.
e.
Tindakan
kelompok
Kesadaran
komunitas dibangun oleh kaum muslim berdasarkan cinta kepada Nabi, bersifat
mendahului dan mengkondisikan kesadaran diri. Persoalan tindakan kelompok
menjadi persoalan pembangkitan kesadaran. Penyelesaian iqbal terhadap persoalan
tindakan kelompok sebagian mengungkapkan kesulitan. Bagi iqbal, iman dapat menjadi
basis sejati satu-satunya bagi tindakan kelompok.
f.
Demokrasi
Kebebasan,
persamaan, dan persaudaraan tampak pararel dengan liberte, egalite, dan
fraternite dan membawa iqba menuju liberalism, demokrasi, dan sosialisme. Dengan kebebasan dia memaksudkan otonomi
manusia, kemampuannya untuk memilih antara kebaikan dan keburukan. Konsep
perilaku yang benar bergantung pada kemampuan manusia untuk melaksanakan hal
sebaliknya.
g.
Lembaga
dan kemordenan
Lembaga
mewakili kesinambungan tradisi dan tradisionalitas kemordenan, tetapi pemikran
autentik memberontak terhadap keduanya atas nama inovasi, kreatifitas,
keaslian, keunikan, otonomi dan keyakinan. Iqbal mendukung suatu system
pendidikan independen bagi muslim india. Ia mengeluh bahwa anak-anak muslim
terlalu banyak belajar tentang puritanisme dan crowwell ketimbang mereka
perlukan. Lembaga-lembaga pendidikan bagaimanapun berat tugasnya, menempati
posisi marginal dalam masyarakat, mencerminkan status quo tetapi tetap
menciptakan enovasi dan kreativitas.
Pemikiran
autentik komitmen pada konsepsi bahwa sejarah bisa dikendalikan oleh manusia.
Melalui kritiknya terhadap idealism dan materialisme dia menerima perubahan
sebagai sesuatu yang alami, tetapi tidak dapat ditentukan.
D.
Eksistensialismisi
M. Iqbal
Eksistensialisme
adalah suatu paham atau suatu sikap filosofis yang biasanya dibedakan dari
suatu dogma atau system tertentu.[20]
Iqbal menunjukkan sikap
eksistensialistiknya dengan menunjukkan sikap ketidaksetujuan pada
pemikiran-pemikiran yang mengajarkan bahwa eksistensi ada dimengerti sama
dengan konsep-konsep tentang ada. [21]
Iqbal
secara khusus tidak berbicara masalah eksistensi atau menganggap dirinya tidak
eksistensialis, tetapi rekontruksi filsafat islamnya menunjukkan adanya
elemen-elemen eksistensialis dalam pemikirannya. Iqmal menolak filsafat
rasionalisme karena membatasi realitas pada pikiran atau ide semata-mata, dalam
defenisi-defenisi dan esensi-esensi yang implikasinya pada manusia adalah
eliminasi keunikan dan individualitas manusia.[22]
Dari
sinilah pijakan pemikiran eksistensialisme iqbal dimulai. Iqbal mencatat
individualitas yang terkandung di dalamnya kesatuan kesadaran manusia yang
merupakan pusat dari personalitas manusia tidak pernah sungguh-sungguh menjadi
perhatian sejarah filsafat Islam. Iqbal menganggap bahwa filsafat islam selalu
berspekulasi tentang, realitas dan manusia, dan cenderung membuat
generalisasi-generalisasi.[23]
Eksistensialisme
Iqbal, jika dibandingkan dengan para eksistensialis, secara keseluruhan lebih
dekat Kierkegaard. Iqbal dan Kierkegaard sama-sama meyakini bahwa dalam
aktualisasi dirinya, manusia mengembangkan dari eksistensinya dari kesadaran
keterbatasannya menuju realitas yang abadai dan tidak terbatas yang
menggambarkan eksistensi keilahian. Eksistensi ini ditandai dengan beberapa
karakter, yaitu penolakan pengemasan realitas sebatas konsep: Instuisi dasar
kerja akal, egohood sebagai dasar ontologis eksistensi manusia, tiga tahap
eksistensi manusia: dari ketaatan pada hokum, control diri, menuju wakil Tuhan,
dan Tuhan sebagai ego mutlak dan manusia sebagai Go-Worker Tuhan.
E.
Relevansi pemikiran Iqbal dengan pendidikan agama Islam
1.
Sekolah hendaknya berdiri sendiri (otonomi) dalam mengatur proses
pembelajarannnya (tidak bergantung dengan lembaga atau institusi lainnya)
2.
Kurikulum yang ada hendaknya disesuaikan dengan perkembangan yang
terjadi yang dapat membantu kemauan siswa.
3.
Siswa diberi kebebasan untuk merealisasikan kebebasan belajar yang
diinginkannya.
4.
Pengajaran yang di lakukan hendaknya dapat membuat siswa bisa
berfikir jauh tentang masa depannya, sehingga setelah selesai sekolah dapat
hidup mandiri
5.
Hendaknya para pendidik pemikirannya tidak terbelunggu dengan
kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran
Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1998
Alim Roswantoro, Gagasan Manusia
Otentik Dalam Eksistensialisme Religious Muhammad Iqbal, Yogyakarta: Idea
press, 2009.
Didin Saefuddin,
Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta: Grasindo, 2003.
Enver, Ishrat
Hasan, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
Gunadi,
R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga
Angkonol, Jakarta : Republika, 2002.
Gwinn,
Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of
Chicago, Volume 6, Cet. 15
Hasyimsyah
Nasution, Filsafat islam, Jakarta: Gaya Media Pratama,2002
Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh
Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani, 2006
Ishrat
Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Muhammad Iqbal, membangun kembali
pemikiran dalam agama Islam,
_________, Rekontruksi pemikiran
agama dalam Islam, Yogyakarta: Jalasutra, 2002
Robet, D. lee. Mencari Islam autentik,
Bandung: Mizan, 2000.
http//www.stidnasir ac.id
http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329,
disadur pada tanggal 8 Pebruari 2011
[1] Alim Roswantoro, Gagasan Manusia Otentik dalam Eksistensialisme
Religious Muhammad Iqbal, (Yogyakarta: Idea press, 2009).hlm.3
[2] Herry
Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta,
Gema Insani, cet.1, 2006), hlm.237
[5] Hasyimsyah
Nasution, Filsafat islam……………………………….. , hlm.182
[6] Alim
Roswantoro, Gagasan manusia otentik dalam eksistensialisme ………..hlm.19
[7] http//www.stidnasir ac.id
[10] Gunadi,
R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga
Angkonol (Jakarta : Republika, 2002), hlm. 50
[11] Gwinn,
Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of
Chicago, Volume 6, Cet. 15
[12] Abdul
Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta,
PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998, hal. 168-170
[14] Natsir,
Mohammad Kapita Selekta 2,( Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita
Selekta, 2008), hlm. 20
[15] Sir
Muhammad Iqbal, membangun kembali pemikiran dalam agama Islam, hlm.3
[16]
Ibid hlm.3
[18] Muhammad iqbal, Rekontruksi pemikiran agama dalam Islam,
(Yogyakarta: Jalasutra, 2002), hlm. 25.
[21] Ibid. hlm. 100
[22] Ibid hlm. 103.
[23] Ibid hlm.103
Tidak ada komentar:
Posting Komentar