Cari Blog Ini

Sabtu, 30 November 2013

EPISTIMOLOGI EKSISTENSIALISME MUHAMMAD IQBAL DAN RELEVANSINYA BAGI ILMU PENDIDIKAN (ISLAM)

EPISTIMOLOGI EKSISTENSIALISME MUHAMMAD IQBAL DAN RELEVANSINYA BAGI ILMU PENDIDIKAN (ISLAM)
Oleh : Muhadi, M.Pd. M.Pd.I

A.      Pendahuluan
Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali kajian-kajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya yang telah berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Dalam kajian ini akan membahas tentang tokoh yang monumental diabad kedua puluh, yaitu Muhammad Iqbal (selanjutnya ditulis; Iqbal). Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan diskusi dan dapat diambil ibrah bagi kalangan intelektual dan cendikiawan muda yang haus akan ilmu pengetahuan.
Ide keutentikan ikut menyinari pemikiran iqbal, penyair, filosof india  awal abad 20. Terilhami oleh peikiran eropa dan Islam, iqbal menolak baik konsepsi kemajuan eropa maupun pola budaya islam kontemporer di india. Dia mengajak kaum muslimin sejati untuk melawan mullahisme, mistisisme, dan monarki, serta melawan cara-cara asing. Dalam kontek luas Muhammad Iqbal menyeru kepada semua manusia untuk bangkit mengatasi cara-cara tradisional serta ide-ide dan teknologi barat guna menemukan kreativitas, semangat, dan keutentikan diri mereka sendiri.
Seorang penulis geografi kontemporer iqbal memuji ”tidak ada manusia yang serba bisa, produktif, dan jenius dalam sejarah melebihi iqbal. Pembandingan yang melintasi masa dan budaya seperti ini merupakan pekerjaan sulit, meskipun kapan saja muncul keberatan keserbabisaan dan kompetensi iqbal. Dalam kajian filsafat yang sangat menarik daripemikiran Muhammad Iqbal adalah tentang ego sebagai pusat falsafatnya. Ekistensialisme merupakan aliran filsafatnya yang mengususng keyakinan ontologis bahwa ada adalah subjektifitas, sebagi reaksi filsafat-filsafat sebelumnya ang menggulirkan kepercayaan ontologis sebaliknya yakni ada adalah subjektifitas. [1]

B.       Sekilas Biografi M. Iqbal
Muhammad Iqbal penyair (filusuf, ahli hokum, pemikir politik, dan reformis muslim).  Ia dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Pebruari 1873 M, atau    bulan Dzulhijjag 1289 H,[2] dan wafat pada tanggal 21 April 1938 M dalam usia 60 tahun.[3] Ia lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor yang dikenal sebagai seorang ulama dan Muhammad Rafiq kakeknya.[4] Kemudian mengikuti pelajaran al-Quran dan pendidikan Islam lainnya secara klasik di sebuah surau. Selanjutnya iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke  Scotch Mission College di Sialkot agar mendapatkan bimbingan dari maulawi Mir Hasan (teman ayahnya yang ahli bahasa Persia dan Arab).[5]
Setelah menelesaikan pendidikan Scotch Mission College, karena bakat intelektual yang tinggi, guru dan bapaknya mendorong M. Iqbal pergi ke Lahore untuk mendaftarkan diri ke Government College (sebuah lembaga pendidikan tinggi terbaik di anak benua India. Ia lulus dengan predikat cum loude, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan progam magister dengan bidang filsafat.[6] Pada saat itu ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold (orientalis inggris yang terkenal yang mengajarkan filsafat Islamdi college tersebut. Antara keduanya terjalin hubungan intim melebihi hubungan guru dengan murid.
Dengan dorongan dan dukungan Arnold, iqbal terkenal sebagai salah seorang pengajar yang berbakat dan penyair di Lahore. Pada tahun 1905, ia studi di Cambridge pada R.A Cisolon, seorang spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Negelian, yaitu John M,E, Mc Tagar. Iqbal kemudaian belajar  di Heidelberg dan munich.
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa gagasan-gagasannya tersebut tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi dan Sayyid Ahmad Khan. Keduanya adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858 British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas pemerintah imperium India.[7]

C.      Pemikiran Muhammad Iqbal
Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.[8]
Namun dalam tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan bukti berupa literatur-literatur yang beredar luas, justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensiona.[9] Dengan latar belakang itu pula maka dalam makalah ini akan memaparkan gagasan-gagasan Iqbal dalam dua hal yaitu: pemikirannya tentang politik dan tentang Islam.
1.    Pemikiran politik
Sepulangnya dari Eropa, Iqbal kemudian terjun kedunia politik dan bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga Muslim India. Ia terpilih menjadi anggota legistalif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum ketika dirinya diberi gelar ‘Sir’ oleh pemerintah kerajaan Inggris di London atas usulan seorang wartawan Inggris yang aktif mengamati sepak terjang Iqbal,[10] di bidang intelektual dan politiknya. Gelar ini menunjukan pengakuan dari kerajaan inggris atas kemampuan intelektualitas dan memperkuat bargening position politik perjuangan umat Islam India pada saat itu. Ia juga dinobatkan sebagai Bapak Pakistan yang pada setiap tahunnya dirayakan oleh rakyat Pakistan dengan sebutan Iqbal Day.[11]
Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk mewujudkan Negara Islam ia tunjukkan sejak terpilih menjadi Presidaen Liga Muslimin tahun 1930. Ia memandang bahwa tidaklah mungkin umat Islam dapat bersatu dengan penuh persaudaraan dengan warga India yang memiliki keyakinan berbeda. Oleh karenanya ia berfikir bahwa kaum muslimin harus membentuk Negara sendiri. Ide ini ia lontarkan keberbagai pihak melalui Liga Muslim dan mendapatkan dukungan kuat dari seorang politikus muslim yang sangat berpengaruh yaitu Muhammad Ali Jinnah (yang mengakui bahwa gagasan Negara Pakistan adalah dari Iqbal), bahkan didukung pula oleh mayoritas Hindu yang saat itu sedang dalam posisi terdesak saat menghadapi front melawan Inggris.[12] Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya merupakan satu keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang akan dibentuk menurutnya adalah salat satu republik itu.
Sebagai seorang negarawan yang matang tentu pandangan-pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam. Bagi Iqbal, budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri manusia adalah jati dirinya. Dengan pemahaman seperti itu yang ia landasi diatas ajaran Islam maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap umat Islam dan identitas keislamannya. Umat Islam tidak boleh merasa rendah diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin dapat melepaskan diri dari belenggu imperialis.[13]
Muhammad Asad mengingatkan bahwa imitasi yang dilakukan umat Islam kepada Barat  baik secara personal maupun social dikarenakan hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan menghancurkan peradaban Islam. Diantaran paham Iqbal yang mampu mambangunkan kaum muslimin dari tidurnya adalah “dinamisme Islam” yaitu dorongannya terhadap umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal menyeeru kepada umat Islam agar bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa seolah-lah orang kafir yang aktif kreatif "lebih baik" dari pada muslim yang "suka tidur".
Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme. M. Natsir menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure of Islam, Iqbal menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya:[14] Didalam agama Islam spiritual dan temporal, baka dan fana, bukanlah dua daerah yang terpisah, dan fitrat suatu perbuatan betapapun bersifat duniawi dalam kesannya ditentukan oleh sikap jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar belakang ruhani yang tak kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan watak dan sifat amal perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal (fana), atau duniawi, jika amal itu dilakukan dengan sikap yang terlepas dari kompleks kehidupan yang tak terbatas. Dalam agama islam yang demikian itu adalah adalah seperti yang disebut orang "gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan sebagai "negara" kalau dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak benar kalau gereja dan negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari barang yang satu. Agama Islam adalah suatu realitet yang tak dapat dipecah-pecahkan seperti itu.
Demikian tegas Iqbal berpandangan bahwa dalam Islam; politik dan agama tidaklah dapat dipisahkan, bahwa negara dan agama adalah dua keseluruhan yang tidak terpisah. Dengan gerakan membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan diri) inilah Iqbal dapat mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami dewasa ini. Ia kembalikan semangat sebagaimana yang dulu dapat dirasakan kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep kedirian inilah yang pada akhirnya membawa Pakistan merdeka dan ia disebut sebagai Bapak Pakistan.
2.    Pemikiran  Religius dan pengetahuan
Agama dalam bentuknya sudah lebih maju, tumbuh lebih tinggi dari pada karya sastra. Agama bergerak dari individu kemasyarakat. Dalam sikapnya kebenaran tertinggi berlawananan pada batas-batas manusia; menambah hak-haknya dan tidak ada gambaran yang dipertahankannya selain suatu pandangan langsung tentang kebenaran itu.[15] 
Semangat filsafat adalah semangat untuk  tahun nelaahan secara bebas. Segala macam keraguan ditinggalkannya.[16] Sedangkan terkait dengan ketuhanan mengalami tiga tahapan yaitu: dari tahun 1901 sampai kira-kira tahun 1908. Pada tahab ini iqbal cenderung sebagai mistikus-panteistik. Tahap kedua dari tahun 1908 sampai 1920. Pada tahab ini iqbal mulai menyangsikan sifat kekal dari keindahan dan efesiensinya, serta kausalitas akhirnya. Sebaliknya tumbuh akan keyakinan akan keabadian cinta, hasrat, dan upaya atau gerak. Tahp ketiga berlangsung dari tahun 1920 sampai 1938. Jika pada tahap kedua merupakan pertumbuhan, maka pada tahap ketiga merupakan pengembangan menuju kematangan konsepsi iqbal tentang ketuhanan. Tuhan adalah hakekat sebagai suatu keseluruhan”, dan hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual, dalam arti suatu indifidu dan suatu ego.[17] 
Adapun Filsafat mengikuti rekaan-rekaan pemikiran manusia yang tidak kritis sampai ke tempat-tempat yang masih tersembunyi, dan dalam pengusutan itu bias juga akhirnya ia berkesudahan dengan menolak atau menerima secara hati terbuka kelemahan akal semata untuk sampai pada kebenaran tertinggi itu. Sebaliknya, intisari agama ialah iman, dan iman itu seperti burung melihat jalannya yang tidak berjejak dan tidak dituntun oleh intelek, yang menurut kata-kata puisi peyair sufi Islam ”hanya menghalangi jantung manusia yang hidup dan merampas kekayaan hidup yang tidak tampak, yang terselip di dalamnya”.  Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa iman itu tidak hanya perasaan saja. Ia adalah sesuatu, semacam isi pengertian yang disana berbagai golongan hadir dan saling bertentangan.[18]
Berangkat dari permasalahan di atas, maka standar yang bias dipakai untuk melihat iqbal adalah standar universal; standar yang bukan hanya tidak ada, melainkan bahkan menurut iqbal tidak akan lahir dari pemikiran barat (‘penyakit otak”) maupun mistisisme timur (“penyakit hati”). Standar universal yang dicarinya itu adalah sejenis standar yang akirnya diajukan oleh iqbal sendiri, yakni standar kebenaran individual yang pada akhirnya akan menyatu. Pada akhirnya iqbal mengajukan suatu teori umum tentang keutentikan, yaitu :[19]
a.    Keunikan
Bagi iqbal identitas tidak diturunkan dari komitmen terhadap tradisi yang lapuk atau semangat nasionalis yang berapi-api, tetapi dari suatu keyakinan bahwa pemahaman realitas harus berangkat dari pemahaman eksistensial tentang diri sendiri. Penalaran maupun perasaan dapat menyesatkan maupun menipu. Hanya hati atau jiwa sejati, dengan kekuatan intuitifnya yang dapat dipercaya untuk untuk mencerap realitas yang tak lain adalah semesta diri. Iqbal tidak percaya bahwa sains modern yang terobsesi oleh data empiris maupun mistisisme dalam bentuk pelarian mampu menawarkan penyelesaian bagi kondisi-kondisi eksistensi yang kongkrit.
Diri autentik mencerminkan masa lalunya sebagai bagian dari wujud masa kininya. Kesadaran diri dari masa lalu muncul dari komunitas, iqbal menyebutnya “pertalian antara apa yang akan dan yang telah terjadi”. Iqbal memandang kesendirian sebagai kondisi primordial manusia. Ia menolak pandangan bahwa individu adalah bagian atau cerminan dari tuhan. Ia menolak pandangan mistis bahwa iman bias melenyapkan individu melalui keterserapan dalam Tuhan, kendati keyakinannya pada cinta ketimbang nalar sebagai esensi iman membawanya ke dalam tradisi mistis.
b.   Kesatuan
Iqbal menunjukkan bahwa keunikan diri, bila dimengerti semestinya memegang kunci untuk memahami semua eksistensi. Diri, melalui pemahaman diri yang utuh membebaskan dirinya untuk memahami dunia dan bertindak di dalamnya, sesuai moral maupun amoral. Muslim sejati mencapai titik pemahaman ini dengan konsep tauhid.
Iqbal mengkritik keras pada timur dan barat pada argumen-argumen tentang dualisme palsu. Ia mengecam timur karena meninggalkan pemikiran abad pertengahannya menuju pemikran induktif. Kaum muslim secara keliru memandang agama sebagai cara pemahaman yang ekslusif yang berbeda dengan sains dan filsafat. Sebaliknya, eropa menolak keyakinan religious demi kebenaran yang dianggapnya objektif, yakni kebenaran sains. Dalam pandangan iqbal kedua dualisme itu melahirkan distorsi. Eropa berpaling pada materialism yang tidak manusiawi, sementara kalangan islam terperosot dalam pasivitas dan mistisisme.
Iqbal menyadari keterbatasan pemahaman mengenai segala sesuatu di luar diri, tetapi ia mencoba menunjukkan bahwa pengetahuan dan instuisi adalah dua model pemahaman yang dengannya diri memahami berbagai macam reaitas. Ia menolak doktrin sufi wahdah al wujud, kesatuan wujud yang dimaknai dunia seluruhnya adalah Tuhan. Iqbal mencoba menunjukkan bahwa islam yang menekankan keesaan tuhan dan keterakhiran kenabian Muhammad. Akhirnya setelah mengkritik hallaj mengenai doktrin ini, ia setuju dengan hallaj bahwa kesatuhan ilahi tidak menghancurkan persnalitas sang penempuh jalan mistis, tetapi membuatnya lebih sempurna, lebih suci, dan lebih ilahiyah, dan mejadikannya unsur bebas dan hidup dari kesatuan ini.

c.    Otonomi
Iqbal memandang dunia sebagai produk usaha manusia. Tuhan telah mempercayakan kepada manusia dunia kepada manusia untuk membentuknya menurut kehendaknya dan manusia bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan sendiri. Itu berarti bertanggung jawab dihadapan tuhan, cerin diri sejati. Muslim sejati dibedakan satu sama lain berdasarkan pada tingkat dominasi kehendaknya atas keniscayaan. Iqbal menyebutkan tiga tingkat kemajuan bagi ego, yaitu:
1)   ketaatan pada hokum ilahi yang menuntut penguasaan diri dan komitmen yang terbatas.
2)   Pengendalian diri yang merupakan penjauhan dari dan keunggulan atas kepemilikan material, dan
3)   Perwakilan Tuhan dimana pemikran dan tindakan, insting dan penalaran menjadi satu. Mereka yang mencapai tingkat perwakilan tuhan itu mengarahkan kejadian-kejadian dimuka bumi. Mewarisis sifat-sifat ego mutlak, individu-individu semacam itu adalah wakil tuhan yang paling sempurna. 
d.   Radikalisme
Iqbal percaya bahwa dunia muslim indi pada decade pertama abad ini memerlukan transformasi, akan tetapi radikalisme iqbal lebih kuat ketimbang sekedar melawan aturan penjajah inggris. Iqbal menyerukan perlawanan terhdap kekangan tradisi dan kemordenan yang melanda india dan bagian dunia non-eropa lainnya. Iqbal mendukung ide Jamaluddin al-afgani ihwal Negara islam. Dalam pandangannya, manusia diasingkan oleh pemisahan tubuh fisik dari idenya sendiri, yang mendapat momentumnya sendir. Hidup mereka dibebani oleh idiologi dan lembaga yang dilahirkan oleh imajinasi mereka sendiri kehilangan semua sentuhan yang kehilangan kreatif dari mana mereka tumbuh.
Ketika membandingkan tradisi islam yang sedang berjalan dengan islam menurut al-Quran dan Muhammad, iqbal menemukan kekurangan dalam hal keberanian, imajinasi, heroism. Bahwa kaum muslimin telah diseret menuju cara-cara eropa menunjukkan kelemahan tradisi yang berlaku.
e.    Tindakan kelompok
Kesadaran komunitas dibangun oleh kaum muslim berdasarkan cinta kepada Nabi, bersifat mendahului dan mengkondisikan kesadaran diri. Persoalan tindakan kelompok menjadi persoalan pembangkitan kesadaran. Penyelesaian iqbal terhadap persoalan tindakan kelompok sebagian mengungkapkan kesulitan. Bagi iqbal, iman dapat menjadi basis sejati satu-satunya bagi tindakan kelompok.
f.     Demokrasi
Kebebasan, persamaan, dan persaudaraan tampak pararel dengan liberte, egalite, dan fraternite dan membawa iqba menuju liberalism, demokrasi, dan sosialisme.  Dengan kebebasan dia memaksudkan otonomi manusia, kemampuannya untuk memilih antara kebaikan dan keburukan. Konsep perilaku yang benar bergantung pada kemampuan manusia untuk melaksanakan hal sebaliknya.  
g.    Lembaga dan kemordenan
Lembaga mewakili kesinambungan tradisi dan tradisionalitas kemordenan, tetapi pemikran autentik memberontak terhadap keduanya atas nama inovasi, kreatifitas, keaslian, keunikan, otonomi dan keyakinan. Iqbal mendukung suatu system pendidikan independen bagi muslim india. Ia mengeluh bahwa anak-anak muslim terlalu banyak belajar tentang puritanisme dan crowwell ketimbang mereka perlukan. Lembaga-lembaga pendidikan bagaimanapun berat tugasnya, menempati posisi marginal dalam masyarakat, mencerminkan status quo tetapi tetap menciptakan enovasi dan kreativitas.
Pemikiran autentik komitmen pada konsepsi bahwa sejarah bisa dikendalikan oleh manusia. Melalui kritiknya terhadap idealism dan materialisme dia menerima perubahan sebagai sesuatu yang alami, tetapi tidak dapat ditentukan.  
D.      Eksistensialismisi M. Iqbal
Eksistensialisme adalah suatu paham atau suatu sikap filosofis yang biasanya dibedakan dari suatu dogma atau system tertentu.[20]  Iqbal menunjukkan sikap eksistensialistiknya dengan menunjukkan sikap ketidaksetujuan pada pemikiran-pemikiran yang mengajarkan bahwa eksistensi ada dimengerti sama dengan konsep-konsep tentang ada. [21]
Iqbal secara khusus tidak berbicara masalah eksistensi atau menganggap dirinya tidak eksistensialis, tetapi rekontruksi filsafat islamnya menunjukkan adanya elemen-elemen eksistensialis dalam pemikirannya. Iqmal menolak filsafat rasionalisme karena membatasi realitas pada pikiran atau ide semata-mata, dalam defenisi-defenisi dan esensi-esensi yang implikasinya pada manusia adalah eliminasi keunikan dan individualitas manusia.[22]   
Dari sinilah pijakan pemikiran eksistensialisme iqbal dimulai. Iqbal mencatat individualitas yang terkandung di dalamnya kesatuan kesadaran manusia yang merupakan pusat dari personalitas manusia tidak pernah sungguh-sungguh menjadi perhatian sejarah filsafat Islam. Iqbal menganggap bahwa filsafat islam selalu berspekulasi tentang, realitas dan manusia, dan cenderung membuat generalisasi-generalisasi.[23]
Eksistensialisme Iqbal, jika dibandingkan dengan para eksistensialis, secara keseluruhan lebih dekat Kierkegaard. Iqbal dan Kierkegaard sama-sama meyakini bahwa dalam aktualisasi dirinya, manusia mengembangkan dari eksistensinya dari kesadaran keterbatasannya menuju realitas yang abadai dan tidak terbatas yang menggambarkan eksistensi keilahian. Eksistensi ini ditandai dengan beberapa karakter, yaitu penolakan pengemasan realitas sebatas konsep: Instuisi dasar kerja akal, egohood sebagai dasar ontologis eksistensi manusia, tiga tahap eksistensi manusia: dari ketaatan pada hokum, control diri, menuju wakil Tuhan, dan Tuhan sebagai ego mutlak dan manusia sebagai Go-Worker Tuhan. 

E.       Relevansi pemikiran Iqbal dengan pendidikan agama Islam
1.      Sekolah hendaknya berdiri sendiri (otonomi) dalam mengatur proses pembelajarannnya (tidak bergantung dengan lembaga atau institusi lainnya)
2.      Kurikulum yang ada hendaknya disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi yang dapat membantu kemauan siswa.
3.      Siswa diberi kebebasan untuk merealisasikan kebebasan belajar yang diinginkannya.
4.      Pengajaran yang di lakukan hendaknya dapat membuat siswa bisa berfikir jauh tentang masa depannya, sehingga setelah selesai sekolah dapat hidup mandiri
5.      Hendaknya para pendidik pemikirannya tidak terbelunggu dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan. 

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998

Alim Roswantoro, Gagasan Manusia Otentik Dalam Eksistensialisme Religious Muhammad Iqbal, Yogyakarta: Idea press, 2009.

Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta: Grasindo, 2003.

Enver, Ishrat Hasan, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Gunadi, R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol, Jakarta : Republika, 2002.

Gwinn, Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15

Hasyimsyah Nasution, Filsafat islam, Jakarta: Gaya Media Pratama,2002

Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani, 2006

Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Muhammad Iqbal, membangun kembali pemikiran dalam agama Islam,

_________, Rekontruksi pemikiran agama dalam Islam, Yogyakarta: Jalasutra, 2002

Robet, D. lee. Mencari Islam autentik, Bandung: Mizan, 2000.

http//www.stidnasir ac.id
http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, disadur pada tanggal 8 Pebruari 2011





[1] Alim Roswantoro, Gagasan Manusia Otentik dalam Eksistensialisme Religious Muhammad Iqbal, (Yogyakarta: Idea press, 2009).hlm.3
[2] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta, Gema Insani, cet.1, 2006), hlm.237
[3] Hasyimsyah Nasution, Filsafat islam, (Jakarta: Gaya media pratama, 2002), hlm.181
[4] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh……………… , hlm.237
[5] Hasyimsyah Nasution, Filsafat islam……………………………….. , hlm.182
[6] Alim Roswantoro, Gagasan manusia otentik dalam eksistensialisme  ………..hlm.19
[7] http//www.stidnasir ac.id
[8] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal,, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, 2004), hlm. 128
[9] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, (Jakarta, Grasindo, 2003), hlm. 51
[10] Gunadi, R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol (Jakarta : Republika, 2002), hlm. 50
[11] Gwinn, Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15

[12] Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998, hal. 168-170
[13] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, disadur pada tanggal 8 Pebruari 2011
[14] Natsir, Mohammad Kapita Selekta 2,( Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008), hlm. 20
[15] Sir Muhammad Iqbal, membangun kembali pemikiran dalam agama Islam, hlm.3
[16] Ibid hlm.3
[17] Hasyimsyah Nasution, Filsafat islam,(Jakarta: gaya media pratama,2002), hlm. 191
[18] Muhammad iqbal, Rekontruksi pemikiran agama dalam Islam, (Yogyakarta: Jalasutra, 2002), hlm. 25.
[19] Robet, D. lee. Mencari Islam autentik, (Bandung: mizan, 2000). Hlm. 72-86
[20] Alim Roswantoro, Gagasan manusia otentik dalam eksistensialisme ..………..hlm.37
[21] Ibid. hlm. 100
[22] Ibid hlm. 103.
[23] Ibid hlm.103

Tidak ada komentar:

Posting Komentar