Oleh : Prof. Dr. Maragustam Siregar, MA
A.
Hakikat Kemukjizatan
Al-Qur'an
Kehadiran Al-qur'an setidak-tidaknya mengandung
tiga maksud yaitu sebagai petunjuk
(hidayah), sebagai bukti kerasulan Muhammad saw, dan sebagai sarana ibadah
kepada Allah dengan jalan membacanya[1]. Bagi orang yang beriman, pernyataan ini pasti diyakini kebenarannya. Tetapi bagi yang tidak mau beriman, pernyataan tersebut masih merupakan tanda tanya.
Sejarah telah membuktikan hal ini,
sebagamana yang telah dilakukan orang-orang
Mekah ketika pertama kali Al-qur'an
disampaikan kepada mereka.
Fazlur Rahman mengungkapkan
bahwa di dalam Islam ada sebuah literatur luas yang dikenal sebagai I'jaz Al-qur'an. Didalamnya dikemukakan
doktrin bahwa Al-qur'an tidak dapat
dipalsukan. Doktrin ini bersumber dari Al-quran sendiri karena Al'qur'an
menyatakan dirinya sendiri sebagai mu'jizat yang
unik dari Muhammad SAW.[2] Statemen ini sangat strategis dalam menghadapi orang-orang yang meragukan dan tidak
mempercayai kebenaran Muhammad saw
sebagai rasul dan kebenaran Al-qur'an sebagai wahyu.
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari
dari
Abu Hurairah, Nabi bersabda yang artinya : "Tidak seorangpun dari para Nabi kecuali diberi
mu'jizat agar dipercayai oleh orang banyak. Dan sesungguhnya yang diberikan padaku
ialah berupa wahyu dari Allah yang aku mengharap kiranya akulah yang paling
banyak pengikutnya pada hari kiamat.[3]. Hadis ini menunjukkan bahwa
mu'jizat merupakan sesuatu yang strategis bagi seorang Nabi dan Rasul,
sebagai pemberian Allah, bukan sesuatu yang diusahai.
Menurut Az-Zarqani bahwa
mu'jizat adalah sesuatu yang tak mungkin ditandingi oleh manusia baik secara pribadi maupun
kolektif. Dia merupakan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan, artinya tidak
terikat oleh hubungan sebab akibat yang dikenal oleh manusia. la merupakan pemberian Allah
swt kepada
Nabinya sebagai bukti kebenaran risalahnya.[4] Selanjutnya
As-Suyuthy mengatakan bahwa mu'jizat adalah suatu perkara yang luar biasa disertai dengan tantangan dan
selamat dari perlawanan.[5]
Menurut Manna' al Qaththan,
bahwa I'jaz (kemu'jizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian
umum adalah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Apabila kemu'jizatan telah
terbukti, maka nampaklah kemampuan mu'jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud
dengan I'jaz dalam dalam pembicaraan ini ialah menampakkan kebenaran Nabi
dalam pengakuannya sebagai Rasul Allah dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk
menghadapi mu'jizatnya yang abadi yaitu Al-Qur'an, dan kelemahan
generasi-generasi sesudah mereka. Dan mu'jizat adalah sesuatu hal luar biasa yang
disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[6] Sementara As-Shobuni mengatakan bahwa mu'jizat dinamakan mu'jizat
(melemahkan) karena manusia lemah untuk mendatangkan sesamanya, sebab mu'jizat
berupa hal yang bertentangan dengan adat , keluar dari batas-batas faktor yang telah diketahui. I'jaz
Al-Qur'an (kemu'jizatan AlQur'an) berarti menetapkan kelemahan manusia secara
terpiasah-pisah maupun berkelompok untuk bisa mendatangkan sesamanya.[7]
Yang dimaksud “melemahkan”
bukanlah melemahkan dalam arti yang sebenarnya tetapi menjelaskan bahwa
Al-Qur'an itu adalah benar dan rasul yang menerima juga benar.[8] Dari berbagai penjelasan di atas dapat digambarkan bahwa I'jaz Al-Qur'an merupakan bukti
nyata kebenaran wahyu Allah dan Rasul
penerimanya. Mu'jizat tersebut bukanlah sesuatu yang diperoleh berdasarkan penelitian dan pengalaman
tetapi merupakan pemberian Allah kepada
rasulNya dengan tujuau-tujuan tertentu. Dia bukanlah hukum kausalitas ataupun
berdasarkan adat atau pola pikir lainnya.
Menurut Abdul Wahab Khallaf
bahwa sesuatu itu baru dikatakan mempunyai i'jaz (melemahkan) apabila terpenuhi tiga hal yaitu (1)
bertanding, artinya minta berlomba, bertempur dan menyanggah, (2) terdapat keinginan yang membawa sikap bertanding
itu kepada perlombaan, perkelahian dan
penyanggahan, (3) meniadakan yang menghalangi
perlombaan ini.[9]
Adanya tantangan dari AI-Qur'an terhadap orang-orang Arab khususnya, dan
manusia pada umumnya untuk membuat semisal Al-Qur'an. Padahal Al-Qur'an itu dibawa
oleh seorang yang ummi, tidak bisa baca tulis, tidak pernah belajar di suatu
sekolah, tidak pernah dinyatakan bahwa ia pernah menerima suatu ilmu
pengetahuan dari salah seorang ulama yang pandai dan menonjol dalam berbagai
segi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, dan tidak pemah pula bertemu dengan
salah seorang ahli kitab, sehingga ini bisa memperlihatkan berita-berita
umat terdahulu dan kabar dari nabi-nabi yang lampau.
Rasulullah saw telah meminta orang Arab atau
generasi-generasi sesudahnya menandingi AI-Qur'an dalam tiga tahapan:
Pertama : Menantang mereka dengan
seluruh A1-Qur'an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain,
manusia dan jin, dengan tantangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui firmanNya :
"Katakanlah : Sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk membuat
yang serupa Al-Qur'an ini,
niscaya mereka tidak akan dapat membuat
yang serupa denganya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu
bagi
sebagian yang lain"( QS. Al-Isra [17]: 88 ).
Kedua: Menentang mereka dengan sepuluh surah saja dari
A1-Qur'an, dalam firmanNya
QS. Hud (11) : 13-14 :


" Ataukah mereka mengatakan Muhammad telah membuat-buat Al-qur'an
itu. Katakanlah: (Jika demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang
menyamainya, dan panggillah
orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yamg benar. Jika mereka
yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah
olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu
Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri
(kepada Allah)?"
Ketiga: Menantang
mereka dengan satu surah saja dari Al-Qur'an, dalam
firmanNya:

Atau
(patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah:
"(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat
seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya)
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." QS. Yunus (10) :38

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al
Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat
(saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,
jika kamu orang-orang yang benar. QS. Al-Baqarah (2):23.
Mengenai ketidakmampuan bangsa Arab
dan generasi sesudahnya untuk membuat semisal
Al-Qur'an, Manna' al-Qaththan berkomentar bahwa bangsa seperti bangsa arab, dengan
terpenuhinya potensi kebahasaan dan
kekuatan retorika yang dinyalakan oleh semangat kesukuan dan dikobarkan oleh tungku fanatisme, andaikata telah dapat
menandingi al-Qur'an tentu hal demikian
akan menjadi buah bibir dan beritanya akan tersiar di setiap generasi.
Sebenarnya mereka telah menelaah ayat-ayat Kitab, membolak baliknya dan mengujinya dengan metode yang mereka gunakan untuk menguntai puisi
dan prosa, namun mereka tidak mendapatkan jalan untuk menirunya atau celah-celah untuk menghadapinya.
Sebaliknya, yang meluncur dari mulut mereka adalah kebenaran yang membuat
mereka bisu secara spontan ketika ayat-ayat
Qur'an menggoncang hati mereka, seperti yang terjadi pada Walid
bin Mughirah. Dan di saat tidak sanggup lagi berdaya upaya , mereka melemparkan
kepada Qur'an itu kata-kata yang membingungkan. Mereka mengatakan, "Qur'an
adalah sihir yang dipelajari, karena penyair gila atau dongengan bangsa purbakala". Mereka tidak
dapat menghindar lagi di hadapan kelemahan
dan kesombongannya selain harus menyerahkan
leher kepada pedang seakan-akan
keputusan yang mematikan tekad memindahkan
para penderitanya dari pandangan
mereka terhadap kehidupan panjang dan umur
panjang ke saat kematian yang mendadak. Dengan demikian terbuktilah
sudah kemujizatan Al-Qur'an tanpa diragukan
lagi.[10]
Selanjutnya, Al-Qur'an secara terus
menerus menantang semua ahli kesusastraan Arab supaya ditandingi. Tapi tak seorangpun mampu menjawab
tantangan tersebut. Bahkan
mereka tidak sanggup lagi menirunya karena alQuran memang berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli, dan alQur'an memang bukan kalimat manusia.[11]
Faktor kedua yaitu adanya
pendorong untuk bertanding di kalangan orang-orang Arab, betul-betul terjadi, karena
Nabi saw datang kepada mereka dengan
membawa agama baru yang dapat menghancurkan agama mereka, menganggap bodoh pikirannnya, menundukkan tuhan
dan patung-patungnya serta menjadikan
mereka bahan tertawaan di antara manusia.
Rasul Muhammad saw
berkata kepada mereka: "Sesungguhnya hujjah atas kebenaranku adalah kitab yang diwahyukan Allah kepadaku ini, maka apabila
kalian tidak membenarkanku, dalam hal tersebut, aku akan mengajak bertanding kepada kalian untuk mendatangkan
semisalnya atau semisal satu surah
al-Qur'an. Kalau kalian lemah, maka itu berarti tanda kebenaranku dan dalil missiku
kepada kalian.[12]
Mengenai faktor ketiga yaitu hilangnya segala
rintangan. Tidak adanya hal yang melarang mereka untuk menandingi Al-Qur'an,
karena al-Qur'an diturunkan dengan bagasa Arab yaitu bahasa mereka, lafazhnya dari huruf-huruf Arab, dan
redaksinya memakai uslub orang Arab. Sebagaimana yang dikatakan As-Shobuni bahwa
orang-orang Arab itu adalah ahli bahasa dan berkemampuan untuk melahirkan syair dan prosa dan
merasa unggul dalam bidang
kepasehan.[13] Itulah
bahasa asasinya yaitu bahasa A1-Qur'an yang
dengannya mereka merasa berbangga,
berlomba, mengadakan hiburan dan berkumpul dalam tempat-tempat acara untuk
mendengarkan qasidah dan pidato yang
menarik, dan membuat ucapan dengan kalimat dan syair-syair yang indah.
Realitasnya, sekalipun tiga faktor tersebut
terpenuhi namun tetap saja orangorang Arab dan generasi sesudahnya tidak mampu
membuat semisal
AlQur'an.
Ini berarti menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah merupakan wahyu yang diturunkan dari Rabbul
`Alamin.
Di
samping tiga faktor tersebut sebagai syarat untuk dikatakan bahwa sesuatu itu punya daya I'jaz, juga para
ulama memberi kriteria khusus terhadap sesuatu
itu disebut mu'jizat yaitu (1) mu'jizat harus berupa sesuatu yang tidakdisanggupi oleh selain Allah swt, (2) tidak
sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan
dengan hukum alam, (3) mujizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang yang mengaku risalah Ilahi
sebagai bukti atas kebenaran dari
pengakuanya, (4) terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mu'jizat tersebut,
(5) tidak akan ada seorangpun yang
dapat membuktikan dan menandingi dalam pertandingan tersebut.[14]
Pengertian mu'jizat berdasarkan kriteria tersebut
bisa dibuktikan dengan mu'jizat yang diberikan Allah swt kepada para nabiNya yang terdahulu. Seperti
mu'jizat Nabi Musa as berupa tongkatnya
menjelma menjadi ukar, tangannya bisa putih bercahaya (QS 7:107-108). Mu'jizat Nabi Isa
berupa ia
bisa menciptakan burung dari tanah, menyembuhkan orang buta sejak lahir, menghidupkan orang
yang telah mati (QS Al-'Araf (3) :107-108 dan QS Ali Imran:49). Sepanjang catatan
sejarah belum ada ahli sihir yang bisa mengalahkan tongkat Nabi Musa as, belum ada orang
yang bisa menghidupkan orang mati. Begitu pula halnya dengan mu'jizat yang
diberikan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw berupa Al-Qur'an, belum ada yang
dapat mengalahkannya,
meskipun membuat satu surah saja semisal al-Qur'an.
Hanya saja ada perbedaan antara mu'jizat nabi-nabi
terdahulu dengan mukjizat Nabi SAW, mujizat nabi-nabi terdahulu disebut "hissiyah"
yang dibatasi oleh waktu dan
tempat.[15] Sedangkan mu'jizat
yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw adalah mu'jizat yang bersifat "akliyah"
yang tak dapatdiketahui kecuali dengan pemahaman dan ini kekal sampai hari kiamat.[16] Mu'jizat-mu'jizat
nabi-nabi terdahulu diberikan mengingat akal manusia pada waktu itu pada fase
perkembangannya tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menarik hati selain
mu'jizat-mu'jizat alamiah yang hissi (indrawi) karena akal mereka belum
mencapai puncak ketinggian dalam bidang pengetahuan dan pemikiran maka yang palig
relevan ialah jika setiap rasul itu hanya diutus kepada kaumnya secara khusus
dan mu'jizatnyapun hanya berupa sesuatu hal luar biasa yang sejenis
dengan apa yang mereka kenal waktu itu. Sementara itu ketika akal mereka telah mencapai taraf sempurna maka Allah mengumandangkan
kedatangan risalah Muhammad saw yang abadi kepada seluruh
umat manusia. Serta mu'jizat bagi risalahnya juga berupa mu'jizat yang ditujukan kepada akal manusia yang telah berada
dalam tingkat kematangan dan
perkembangan yang paliag tinggi.[17]
Dan uraian-uraian di atas dapat digambarkan bahwa
mu'jizat yang ada pada nabi-nabi bukanlah diperoleh karena pengalaman dan
keahlian atau sesuatu yang dipelajari tetapi semata-mata pemberian Allah swt.
Maka setiap mu'jizat yang diterima oleh para nabi bukanlah ciptaan mereka.
Perbedaan mu'jizat yang diterima para nabi tersebut karena adanya perbedaan
waktu, karakteristik ummat yang dihadapi, sifat keberlakuan, dan tempat di mana
rasul diutus. Mu'jizat Al-Qur'an bertujuan untuk membuktikan bahwa al-Quran adalah benar-benar wahyu
Allah, bukan ciptaan Muhammad SAW. Selain itu kemu'jizatan al-Qur'an juga
bertujuan pembuktian pembenaran Rasulullah saw dalam hal ini Az-Zarqani menjelaskan
bahwa tujuan utama dari kemu'jizatan Al-Qur'an adalah untuk menampakkan
(membuktikan) bahwa alQur'an itu benar. Manusia dapat merasakan kelemahannya dengan adanya
mu'jizat al-Qur'an itu, kemudian dapat mempercayai bahwa al-Qur'an itu
benar-benar wahyu Allah Yang Maha Kuasa. Yang penting mereka mendapat petunjuk hidup dan membenarkan kedatangan
Nabi Muhammad saw yang mempunyai tugas untuk membimbing dan mengarahkan
manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat.[18] Hal ini difirmankan
Allah:

Alif Lam Raa, (ini adalah) kitab yang
kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita
kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Kuasa lagi Maha Terpuji
(Ibrahim [14]:1).
- Segi-segi
Kemukjizatan Al-Qur'an
Di antara orang-orang yang
ahli bahasa Arab, dan yang memahami keunggulan bahasa ini dari bahasa-bahasa lainnya ada
kesepakatan bahwa di dalam keindahan bahasa, gaya dan kekuatan ekspresinya,
al-Qur'an merupakan sebuah dokumen yang tak ada tandingannya.[19] Az-Zarqani
menyebutkan bahwa susunan bahasa al-Qur'an sangat indah dan berbeda dengan gaya bahasa yang sudah dikenal
dalam bahasa Arab, kefasihannya dapat meyakinkan orang bahwa al-Qur'an bukan berasal
dari manusia.[20] Selain iti as-Shobuni menjelaskan bahwa
al-Qur'an bisa melemahkan makhluk dari segi uslubnya, keindahan dan kejelasannya, ilmu pengetahuan dan hikmah-hikmahnya, pengaruh petunjuknya
dan masa datang.[21] Menurut Manna al-Qaththan
bahwa ada tiga macam aspek kemu'jizatan A1-Qur'an yaitu aspek bahasa, aspek isyarat ilmiah
dan aspek tasyri'i al-hukmi (penetapan hukum).
Aspek bahasa: Meskipun
bahasa Arab waktu turunnya al-Qur'an telah tumbuh dan berkembang meningkat tetapi
dihadapan al-Qur'an, dengan kemu'jizatan bahasanya, ini menjadi pecahan-pecahan kecil yang
tunduk menghormat dan takut terhadap uslub al-Qur'an, bertekuk lutut di hadapan bayan
qur'ani.
Aspek isyarat ilmiah: Mengenai
kemu'jizatan
al-Qur'an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada ummat
Islam untuk berpikir di samping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap
dan stabil.
Aspek penetapan hukum: Sedangkan
kemu'jizatan al-Qur'an di bidang tasyri'i al-hukmi terlihat bahwa al-Qur'an
merupakan perundang-undangan hukum yang paripurna yang menegakkan kehidupan manusia
di atas
dasar konsep
yang paling utama. Dan tidak seorangpun dapat mengingkari bahwa alqur'an telah
memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia.[22]
Selanjutnya beberapa segi
kemu'jizatan yang lebih rinci dikemukakan oleh As-Shobuni bahwa
susunan kalimat-kalimat Alquran yang indah, berbeda dengan setiap susunan yang ada dalam
bahasa
Arab; adanya uslub yang aneh yang berbeda dengan uslub-uslub bahasa Arab; sifat yang
agung yang tidak mungkin bagi seorang makhluk untuk mendatangkan sesamanya; bentuk undang-undang
yang detail lagi sempurna yang melebiha setiap undang-undang bikinan manusia:
mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu, tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan
umum yang
dipastikan kebenarannya; menepati janji dan ancaman yang dikhabarkan al-Qur'an, adanya ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya (ilmu pengetahuan
agama dan ilmu pengetahuan umum); memenuhi segala
kebutuhan manusia; berpengaruh kepada hati pengikut atau musuh.[23] Salah satu contoh kemu'jizatan al-Qur'an
ialah mengabarkan hal-hal ghaib, seperti
bangsa Rumawi yang telah dikalahkan oleh bangsa Parsi akan menang beberapa tahun kemudian. FirmanNya QS Ar-Rum (30): 2-4 :
غلبت الروم في أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون في بضع
سنين لله الأمر من قبل ومن بعد ويومئذ يفرح المؤمنون
Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat
dan mereka
sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allahlah
urusan sebelum
dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah
orang-orang beriman.
Menurut catatan sejarah kekalahan bangsa Rumawi
adalah antara tahun 614-615 M, sedangkan kemenangannya di peroleh tahun 622 M. Kekalahan bangsa Rumawi itu, menimbulkan rasa duka cita di kalangan
kaum muslimin. Kemudian turunlah ayat ini
yang menerangkan bahwa bangsa Rumawi sesudah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun
saja. Hal ini benar-benar terjadi pada
tahun 622 M. Dengan kejadian yang demikian
nyatalah kebenaranMuhammad saw sebagai nabi dan rasul dan kebenaran
al-Qur'an sebagai firman Allah.
- Paham ash-Shirfah Tentang Mukjizat
Menurut Abu Ishaq Ibrahim
an Nizam dan pengikutnya dari kaum Syi'ah saperti Imam Murtadla berpendapat, kemu'jizatan al-Qur'an adalah dengan cara shirfah (pemalingan). Arti
shirfah dalam pandangan an-Nizham ialah bahwa Allah memelingkam orang Arab untuk menantang al-Qur'an padahal sebenarnya, mereka mampu
menghadapinya. Maka pemalingan inilah yang luar biasa (mu'jizat). Sedang shirfah menurut pandangan al-Murtada ialah, bahwa Allah telah mencabut dari
mereka ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menghadapi al-Qur'an agar mereka tidak mampu membuat yang seperti al-Qur'an. Pendapat in] menunjukkan
kelemahan pemiliknya sendiri. Sebab tidak akan dikatakan terhadap orang yang dicabut kemampuannya
untuk berbuat sesuatu, bahwa
sesuatu itu telah membuatnya lemah selama ini masih mempunyai kesanggupan untuk
melakukannya pada suatu waktu. Akan tetapi yang melemahkan (mu'jiz) adalah kekuasaan Allah, dan
dengan demikian al-Qur'an
bukanlah mu'jizat. Padahal pembicaraan kita tentang kemu'jizatan al-Qur an, bukan kemujizatan Allah, akan
tetap ada sepanjang masa.[24] Ini berarti, kemu'jizatan al-Qur'an bukan karena al-Qur'an itu
sendiri melainkan perkara lain
di luar al-Qur'an, yaitu
adanya penghalang yang menghalangi mereka untuk membuat tandingan. Penghalang itu tidak lain adalah
pemeliharaan Allah terhadap al-Qur'an dari usaha-usaha orang-orang yang ingin menandinginya. Andaikata halangan itu tidak ada, tentu saja manusia akan dapat
membuat sesuatu yang seperti al-Qur'an itu pada dasarnya tidak melebihi
kemampuan mereka dari segi balaghah dan nazhamnya.[25]
Mengomentari pendapat an Nizham itu Qadi Abu
Bakar al-Bagalani, salah satu hal yang membatalkan pendapat shirfah ialah,
kalaulah menandingi al-Qur'an
itu mungkin tetapi mereka dihalangi oleh shirfah, maka kalam Allah itu tidak mu'jizat, melainkan shirfah itulah yang mu'jizat. Dengan
demikian, kalam tersebut tidak mempunyai
kelebihan apapun atas kalam yang lain.
Pendapat shirfah ini juga ditolak oleh al-Qur'an sendiri dalam firmanNya:

"Sesungguhnya j1ka
manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak
akan dapat membuat yang serupa
dengannya,sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS Al- Isra'(l7) :88).
Ayat ini menunjukkan kelemahan mereka meskipun mereka masih mempunyai kekuatan.
Dan seandainya kemampuan mereka
telah dicabut, maka berkumpulnya jin dan manusia tidak lagi berguna karena perkumpulan itu sama halnya
dengan perkumpulan orang-orang mati. Sedang kelemahan orang mati bukanlah sesuatu yang patut disebut-sebut. Menurut as-Shobuni bahwa berdasarkan
catatan sejarah, orang-orang Arab pra Islam adalah orang yang ahli mengukir dalam bentuk kefasihan bahasa. Pendapat
shirfah ini adalah pendapat yang batal.[26]
D. Ringkasan
Dari berbagi uraian di atas
dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut : Pertama: Mu'jizat al-Quran ialah menampakkan kebenaran Nabi Muhammad saw dalam
pengakuannya sebagai seorang rasulNnya
dengan menampakkan kelemahan manusia
dan generasi-generasi berikutnva baik
secara terpisah maupun berkelompok
untuk menghadapi mu'jizat yang abadi, yaitu
al-Qur'an. Sesuatu itu baru dapat dikatakan mu'jizat apabila telah terpenuhi
tiga hal yaitu adanya tantangan; adanya yang mendorong untuk mengajak tantangan itu masih ada dan yang
menghalang-halangi sudah tidak ada.
Kedua: Bukti-bukti daya kebenaran kemu'jizatan al-Qur'an
dapat dilihat antara lain
dari aspek bahasanya/linguistiknya, aspek isyarat ilmiahnya, aspek penetapan
hukum dan aspek
prediksinya tentang hal-hal yang ghaib.
Ketiga: Daya kemu'jizatan al-Qur'an bertujuan untuk
membuktikan bahwa al-Qur'an
benar-benar wahyu Allah dan membuktikan kebenaran rasul Allah. Manusia dapat merasakan kelemahannya
dengan adanya mu'jizat al-Qur'an dari zat al-Qur'an itu sendiri. Bukan karena faham as-shirfah yang tidak
etis dan tidak argumentatif Demikianlah
tulisan ini di buat semoga ada manfaatnya.
Yogyakarta, 30 September 2008
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahab Khallaf Syaikh, Ilmu Usul Fikih,_Halimuddin
(penterjemah), Rineka Cipt, 1990.
Depag RI, Al-Qur 'an Dan
Terjeemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci AlQur'an Depag RI, Jakarta, 1980.
Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur'an,
Anas
Mahyuddin (penterjemah), Pustaka, Bandung, 1983.
Hussein Bahreisyi, Himpunan Hadits
Shohih Bukhari, Al-Ikhlas, Surabaya, 1981.
Malik Bin Nabi, Fenomena
Al-Qur'an, Soleh Mahfoed, Al-Ma'arif, Bandung, 1983.
Manna al-Qaththan, Mahahits Fii Ulum AI-Qur'an, Huquq al-Thab' Mahfudzah, Riyadl, tt.
Shobuni ash, Muhammad Aly, At Thibyaan fi Ulumil
Qur'an, Darul Irsyad, 'Alamul Kutub, Mekkah, 1985.
Shubh al-Shalih, Mabahits fii Ulum
al-Qur'an, Darul Ilmi Iii Malayiin, Beirut, 1977.
Suyuthi as, Al-Itqan Fi Ulum Al-Qur'an, Darul Fikri, Lebanon,
1979.
Zarkasyi, Badruddin Muhammad
Bin Abdullah, Al-Burhan Fi Ulum AlQur'an, Darul Hayah, Kutubil Arabiyah, 1956.
Zarqoni az, Muhammad Abdul Azhim, Manahilil Irfan Fi Ulum Al-Qur'an, alBaby al-Halaby, tt.
[1]Muhammad Abdul Azhim Az -Zarqani, Manahilil Irfan Fi Ulum Al-Qur'an, al-Baby al-Halaby, hal. 24.
[2]Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-qur’an, Anas Mahyuddin (penterjemah), Pustaka, Bandung, 1983, hal.152.
[6] Manna Al-Qaththan, Mahabits fi Uluum AI-Our'an, Huquq al-Thab'
Mahfudzah, Riyald, tt, hal_ 258-259.
[7] Muhammad Ali As-Shobuniy, At Thibyan fi Ulum al-Our'an, Darul Irsyad, 'Alamul Kutub, Mekkah, 1985,
hal. 89.
[9] Abdul Wahab Khallaf, Syakh, Ilmu
Usul
F'ikih, Halimuddin (penterjemah),
Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal. 19.
[11]Shubh AI-Shalih, Mahabits fi Uulum A!-Our'an, Darul lhya
Lil Malayiin, Beirut, 1977, hal. 313.
[12] Muhammad al-Shobuni, Op.cit., hal.
97.
[13] Ibid. hal. 98.
[15] Sayuthi al, Op.cit., hal. 116.
[16]Badruddin Muhammad Bin Abdullah
Az-Zarkasyi, AI-Burhan fi Ul-um Al-Our'an, Darul Hayah, Kutubil Arabiyah, 1956, hal 90.
[17]Manna Al-Qaththan, Op.cit., hal. 256-257
[21] Muhammad al-Shobuni, Op.cit., hal.
98.
[22] Manna al-Qaththan, Op.cit., hal.
264-280.
[24] Manna al-Qaththan, Op.cit., hal.
261.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar